2018, saatnya mengasah skill desain grafis !


Sebelum perayaan tahun baru 2018, iseng-iseng, saya mencoba mendengar lagu nosstres berjudul; tahun baru lagi. Band indie beraliran folk  ini mulai banyak digandrungi pencinta musik di tanah air.  Dan ketika  mendengar liriknya, cukup membikin siapa saja yang gemar melakukan ritual resolusi tahun baru, akan senyum-senyum sendiri. Termasuk saya. 😅

Band Nosstres, dengan alunan gitar akustik, harmonica, dan sentuhan dentuman drum , berusaha menyisipkan pesan mendalam melalui lirik “resolusi tanpa aksi, sama aja basa-basi.”

Makanya, saya sempat mikir-mikir, untuk di tahun ini, resolusi apa yang sekira bukan hanya sekedar basa basi, melainkan juga mampu memberikan dampak positif bagi saya pribadi.

Akhirnya, saya merasa di tahun ini  mesti meningkatkan kemampuan saya menggeluti desain grafis.

Kenapa desain grafis?


Saya tertarik mendalami desain grafis karena semenjak kecil, sebenarnya saya hobi menggambar. Sayangnya, bakat ini belum sempat tersalurkan dengan baik dan kebanyakan hanya iseng-iseng corat-coret buku catatan biar gak kaku kalau membaca tulisan.

Saya pernah mendalami dunia kaligrafi. di tahun 2008, dengan ikut bergabung dengan komunitas kaligrafi di sekolah MAN Model Gorontalo. Pernah juga ikut lomba setingkat MTQ kota dan memenangi juara 3 waktu itu. Tetapi, begitu masuk kuliah dan sibuk dengan beragam aktifitas, lambat laun, saya mulai teralihkan dari hobi ini.

Barulah ketika melanjutkan kuliah di Jjogja, saya mulai lagi berkenalan dengan dunia desain. Terutama mengakrabi diri dengan piranti lunak Corel Draw.

Awalnya memang, saya sering melihat beberapa teman yang hobi mendasain memanfaatkan aplikasi ini. Biasanya, mereka mengerjakan pesanan avatar di forum kaskus, atau membuat infografis untuk beberapa proyek dari teman-teman yang kuliah di jurusan tehnik.

Karena mungkin sering mengamati teman, lambat laun, saya tertarik untuk mencoba menyalurkan hobi menggambar dulu. Bedanya, kalau dulu media yang digunakan berupa kertas dan pewarnaan cat, sekarang beralih ke media digital dengan memanfaatkan software pengolah grafis.

Rasanya, ada tantangan di mana tangan mesti jeli memainkan kursor,  menyeleksi warna, tata letak, font, dan segala macam unsur pendukung lainnya.

Akhirnya,  setelah cukup memiliki dasar sekedar mendesain, lambat laun beberapa teman  saya pun sering memintai tolong –tentu tanpa bayaran—untuk menggarap poster diskusi.
infografis tentang kain karawo yang saya buat.


Berkenalan dengan desainer Grafis Gorontalo


Selain itu, di tahun 2017, saya berkenalan dengan tetangga saya, kak Anang Musa, sewaktu pulang mudik lebaran. Kak Anang ini termasuk orang yang menggeluti dunia desain secara professional. Belakangan baru saya tahu, di tahun 2016 silam, dia berhasil menjuarai kompetisi desain sticker yang diadakan oleh platform BBM. Tentu, prestasinya ini membuat namanya terkenal di tempatku, Gorontalo. Maklum, di daerah saya, masih jarang ditemui orang-orang yang menjadikan dunia desain sebagai profesi utamanya.
stiker bbm karya Annang Musa

Menariknya, kak Anang Musa menggeluti dunia desain secara otodidak sewaktu ia kuliah di jurusan tehnik sipil, di Unversitas Brawijaya, Malang.

Selain kak anang Musa, adalagi sosok yang membuat saya semakin tertarik dengan dunia desain grafis. Mas Lutfi hinelo.

Kalo anda termasuk pembaca komik generasi 90-an di platform Ciyao komik, mas Lutfi inilah orang dibalik pembuat karakter komik tersebut.

Mas Luthfi termasuk orang yang memilih medium desain grafis untuk memperkenalkan keragaman budaya Gorontalo. Semisal dengan membuat Alphabet challenge, atau tantangan abjad. Alphabet challenge sendiri adalah proses pengenalan abjad huruf yang dilakukan oleh si pembuat dengan mengaitkan contohnya ke dalam sebuah kata dasar tertentu. Semisal: A untuk Apel, B untuk Bemo. Bedanya, mas Luthfi mengganti objek tersebut dengan identitas daerah Gorontalo.

Kemampuan dari dua orang inilah yang semakin menyemangati saya untuk terus mengasah kemampuan mengolah grafis.

kendala yang ditemui ketika mau meningkatkan skill desain grafis.


Sebagai orang yang baru belajar menggeluti dunia desain grafis, tentu ada banyak hal yang –bisa dibilang—sedikit menghambat saya dalam meningkatkan kemampuan saya.

1. Alat Kerja.

Inilah kendala mendasar saat seseorang tertarik menggeluti dunia desain grafis. Berbeda dengan mengolah gambar secara manual yang membutuhkan medium kertas, atau cat secara fisik, dalam dunia desain grafis, alat yang dibutuhkan adalah komputer dengan spek mumpuni sesuai kebutuhan software pengolah grafis. Dan saya banyak mengalami kendala saat memanfaatkan notebook saya yang cuman memiliki spek rata-rata, dipaksa membuka software corel draw untuk menyalurkan ide desain. Terkadang, ada lag yang ditimbulkan saat menggunakan notebook ini.

2. Ide

Memang, ide bisa datang dari mana saja. Apalagi di dunia internet, banyak terdapat template gratisan yang disediakan ragam situs untuk diubah dan digunakan sesuai kebutuhan. Semisal, website freepik. Tetapi, tetap aja, ada keinginan tersendiri untuk menghasilkan desain 100% hasil karya sendiri tanpa bantuan template gratisan. Kan, gak enak kalau saya terus-terusan menggunakan template gratis tanpa menghasilkan karya yang benar-benar saya buat dari nol.

3. Mentor atau guru.

Ini sih mungkin akan terasa gampang dengan banyaknya tutorial yang tersedia di internet. Baik berupa tulisan, maupun video. Namun, kadangkala, kendala yang kita hadapi, tidak tersedia jawabannya di internet. Saya juga merasa interaksi dengan mentor atau guru lebih maksimal dalam menyelesaikan permasalahan saya ketika mentok mendesain sebuah gambar.

Solusinya apa?


Tentu saja tempat kursus.

Iya. Tempat kursus. Saya membutuhkan tempat kursus yang bisa membantu meningkatkan kemampuan saya dalam menggeluti dunia desain grafis. Dan saya rasa, ketiga kendala di atas akan bisa teratasi dengan mengikuti Kursus desain grafis yang sudah terkenal dan menjamin fasilitas bagi setiap pesertasanya.

Saya mencoba mencari referensi di internet mengenai tempat kursus desain grafis yang cocok bagi saya. Seorang pemula yang ingin belajar desain grafis dari  dasar. Dan jawabanya adalah; kursus di dumet school.

Ada beberapa alasan yang mendasari saya, kenapa memilih kursus desain grafis harus di dumet school.


1. Sertifikat. 


Sebagai orang yang terlahir di era banyaknya persaingan kerja, memiliki sertifikat tentunya merupakan hal yang harus dimiliki oleh seseorang untuk meningkatkan personal branding kita. Sebab, sertifikat bukanlah sebatas legalitas kalau anda pernah kursus. Tetapi sertifikat juga berfungsi sebagai pengakuan skill yang kita miliki memang betul-betul mumpuni dibidang yang kita geluti.

Menariknya, dumet school punya dua sertifikat sekaligus bagi peserta kursus desain grafis. Setelah menyelesaikan masa kursus desain grafis, Dumet school nantinya akan memberikan sertifikat yang terdaftar dalam ijin Diknas. Selain itu, Dumet school juga memberikan sertifikat bertaraf internasional yakni Adobe Certified Associate (ACA). Yah. Dari Adobe loh. Perusahan perangkat lunak yang juga memiliki produk perangkat lunak desain grafis semisal adobe In Design.  Keren kan?

2. Biaya terjangkau.


Dumet school memberikan pilihan pembiayaan kursus sesuai minat desain grafis yang ingin kamu geluti. Mulai dari Premium, Pro, dan ultimate. Tak hanya itu, pelunasan biaya kursusnya juga memberikan opsi dengan bisa diangsur sesuai kemampuan peserta.

Masih kurang?

Tenang. Dumet school memberikan kursus gratis kok bagi yang ingin mencicipi pengalaman kursus desain grafis di dumet school.



Satu lagi. Di bulan Januari ini, dumet school lagi memberikan diskon sampai 35% loh. Kurang apa lagi coba?



3. Materi beragam.



Materi yang disertakan dalam paket kursus desain grafis di Dumet School sangat beragam sesuai dengan kebutuhan peserta. Semisal, bila saya yang suka desain infografis, mungkin akan memilih indesign untuk meningkatkan kemampuan dan illustrator untuk membuat brosur atau layout buku.



beberapa karya alumni dumet school. keren abis!!
Tentunya, dengan dasar photoshop guna meningkatkan skill mendasar dalam mengolah gambar. Selain itu, paket materi yang disertakan juga disesuaikan dengan biaya kursus.


4. Support seumur hidup.


Berbeda dengan tempat kursus lain yang kalau selesai kursus, putus juga hubungan dengan lembaga kursus. di Dumet School, alumni kursus tetap mendapat support seumur hidup dengan diberikannya akses ke lab daring untuk mengakses materi yang dibutuhkan. Selain itu, konsultasi dengan guru pun akan terus berlanjut walaupun anda sudah menyelesaikan menimba ilmu di dumet school.

5. Waktu sesuai kemauan peserta.


Ini lagi yang mengasyikan. Tempat kursus di Dumet school menyesuaikan dengan waktu peserta alias jadwal sepenuhnya ditentukan oleh peserta sendiri. Sehingga, kita tidak akan ketinggalan materi kursus bila ada kesibukan.

Fleksibilitas waktu seperti ini tentunya memudahkan bagi saya, mahasiswa yang sementara sibuk studi. Sehingga, bila waktu libur studi tiba, saya bisa memanfaatkannya dengan mengambil jadwal kursus sesuai waktu yang ditentukan oleh saya sendiri.

Kalau nanti saya punya biaya dan waktu –terutama hari libur—bisa berkesempatan menimba ilmu di dumet school. Hitung-hitung, daripada nganggur selepas UAS, mending dimanfaatkan untuk kursus sekaligus meningkatkan kemampuan desain grafis saya.

Bagaimana dengan anda?


Silahkan daftarkan email anda bila tertarik menikmati artikel ini.

mohon mengisi alamat email anda dengan benar.

blogger biasa. penyuka kopi, buku, film dan kretek.

Artikel menarik lainnya...

0 Komentar

Bijaklah dalam berkomentar.