pulang yang tak lagi ingin
| Photo by Robert Modalo on Unsplash |
/1/
Awal november kemarin, saya mendapat tugas mengunjungi kota Palu, Sulawesi Tengah. sebuah kota yang saat itu wakil wali kotanya dijabat oleh vokalis band ungu. tiga hari rencana menetap di kota ini dengan ragam kegiatan rakernas KKIG se-Indonesia.
Menuju Palu, bukan sebatas menjejakkan kaki di kota yang berhadapan laut. ini tanah yang punya segelintir kisah di masa kecil, juga kisah romansa yang memisahkan kami, sebelum akhirnya kandas. kota ini hanya bertautan 12 jam perjalanan lebih untuk sekadar menginjakkan kaki di tanah asal saya, Gorontalo.
Kali pertama ke Palu, seingat saya, saya masih bertubuh balita. mungkin tahun 1995 silam. dengan bis lintas provinsi, saya dibawa berkelana melintas dataran Sulawesi. ingatan padatnya hutan di gunung kopi masih samar tersimpan.
Di Palu juga, kali pertama saya menonton film Jurastic Park di salah satu televisi swasta, RCTI. Palu juga, saya menjumpai dengan beberapa kerabat dan sepupu yang sudah kadung bermukim di tanah itu. pertemuan yang bisa dibilang canggung karena ada rasa rindu, tetapi berjarak karena kami dipisahkan waktu, tempat, dan komunikasi yang jarang terjalin.
Ada lima saudara dari pihak ibu yang tengah menetap di sini. anak-anaknya, sepupu jauh yang kadang berjumpa tatkala lebaran tiba. itupun tak setiap tahun terlaksana.
Sebelum berangkat ke Jogja, awal tahun 2015 silam, saya menyempatkan menghadiri pesta pernikahan dari kakak sepupu saya di kota ini, Palu. barulah 2 tahun berselang, kota ini bisa saya sapa lagi. dengan aroma laut yang sama, jalanan lenggang, lanskap pegunungan mengapit teluk Palu, juga keramahan minuman saraba di tepi pantai Talise.
Semua ingatan itu kembali tercipta. menyapa setiap sudut kota. kenangan di pantai Talise dengan beberapa orang, bermunculan satu persatu. pantai Talise masih saja sama dengan tahun sebelumnya. laut susut tatkala malam. aroma garam, angin laut menyapa, dan aroma jahe kental dari gerobak penjajal minuman Saraba.
/2/
Terlebih, belakangan kasus kriminal menyurutkan keramah tamahan penduduk kota Palu. ada semacam bahaya yang mengancam di jalanan tatkala malam kian larut. berbeda dengan tahun 2010 silam.
Menjelang kepulangan, saya bersama rombongan diundang oleh Bupati Donggala ke salah satu obyek wisata pantai, Tanjung Karang. Sepanjang perjalanan, alunan lagu timur samar terdengar. bukit kapur banyak berserakan dieksploitasi perusahaan besar.
Menjelang kepulangan, saya bersama rombongan diundang oleh Bupati Donggala ke salah satu obyek wisata pantai, Tanjung Karang. Sepanjang perjalanan, alunan lagu timur samar terdengar. bukit kapur banyak berserakan dieksploitasi perusahaan besar.
Pantai bukanlah pemandangan pasir putih dan ombak di bibir pantai. sebab di situ, banyak berserakan tumpukan material kapur yang siap diangkut ke kapal. juga kapal besar, alatberat, dan truk tengah sibuk melakukan aktivitasnya.
Bis melipir ke area pemukiman yang mengingatkan nuansa kota tahun 90-an silam. Banyak bangunan tua di sini, Donggala. ringkih berkelahi dengan waktu dan menunggu rubuh dimakan usia.
Bis melipir ke area pemukiman yang mengingatkan nuansa kota tahun 90-an silam. Banyak bangunan tua di sini, Donggala. ringkih berkelahi dengan waktu dan menunggu rubuh dimakan usia.
Rumah penduduk sederhana seakan kontras dengan banyaknya perusahaan yang tengah menjamur menggeruk kekayaan alam gunung kapur sebelum memasuki kawasan pariwisata.
Di sepanjang jalan menuju Tanjung Karang, ada pesan yang hendak disampaikan. bahwa kesejahteraan, tak perlu teori njimet bila kita mau jeli melihatnya.
Wisatawan tetaplah orang yang tengah dipersiapkan melupakan persoalan hidup. sebab, kita menuju tempat wisata bukan untuk memikirkan kontrasnya masyarakat pesisir di sini.
Sebuah ilusi di balik keceriaan kita menikmati alam. hura-hura sembari menutup mata dengan kondisi masyarakat sekitar. paradoks, memang.
Di Bandara Palu, sebelum bertolak ke Yogyakarta, ada perasaan dilema menyapa. Seolah ingin berlama-lama lagi di kota ini. menyusuri jalan dan tempat yang dulu sempat menyimpan kenangan, atau memutuskan balik haluan melepir ke Gorontalo. Dan lagu itu kembali mengalun. kapal udara, merantau, sayup-sayup melantunkan sebuah lirik emosional;"pulang tak lagi menjadi ingin" dari sebuah band indie kota Makassar, Kapal udara.
Di Bandara Palu, sebelum bertolak ke Yogyakarta, ada perasaan dilema menyapa. Seolah ingin berlama-lama lagi di kota ini. menyusuri jalan dan tempat yang dulu sempat menyimpan kenangan, atau memutuskan balik haluan melepir ke Gorontalo. Dan lagu itu kembali mengalun. kapal udara, merantau, sayup-sayup melantunkan sebuah lirik emosional;"pulang tak lagi menjadi ingin" dari sebuah band indie kota Makassar, Kapal udara.
Write a comment
Posting Komentar